1379687744

Jakarta – Kota Jakarta kembali berpartisipasi dengan kota-kota lainnya di dunia dalam gerakan PARK(ing) Day. Ini merupakan upaya untuk mengembalikan ruang publik yang selama ini sudah beralihfungsi menjadi ruang yang digunakan hanya untuk segelintir orang, misalnya adalah ruang parkir bahu jalan.

Tahun ini, kampanye PARK (ing) Day dilakakukan oleh Komunitas Ruang Publik Jakarta bekerja sama dengan SIG Architect and Urbandesigner serta didukung oleh ITDP (Institute for Transportation and Development Policy). Tujuannya untuk meningkatkan kualitas ruang kota, dan untuk menyatakan kembali bahwa ruang publik merupakan fasilitas bersama yang dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Kota yang sehat adalah kota yang memiliki ruang untuk interaksi dan aktivitas publik tanpa batasan kelas sosial seperti yang dibentuk oleh kebanyakan masyarakat di kota-kota besar,” kata Stevanus Ayal, salah satu inisiator Komunitas Ruang Publik Jakarta kepada Beritasatu.com di Jakarta, Jumat (20/9) petang.

Kampanye ini dilakukan setiap tahun pada minggu ketiga di bulan September secara serentak di seluruh dunia. Untuk Jakarta, PARK(ing) Day dilakukan di lahan parkir Kafe 2 Nyonya di Jalan Cikini Raya dan lahan parkir Menteng Square.

Selama berlangsungnya kampanye PARK(ing) Day, lahan parkir tersebut diubah menjadi taman buatan yang memfasilitasi masyarakat untuk beraktifitas dan saling berinteraksi.“Kampanye ini kita lakukan bukan hanya untuk mendorong pemerintah agar membangun dan menyediakan fasilitas ruang publik yang baik, tapi kita juga ingin kasih lihat ke masyarakat bahwa ini lho yang bisa kita lakukan di ruang publik bila tidak digunakan untuk lahan parkir,” ujar Stevanus.

Gerakan PARK(ing) Day yang telah mendunia ini digagas oleh grup Rebar. Sebuah studio desain di San Francisco pada tahun 2005. Di Indonesia sendiri, kampanye ini mulai berjalan sejak 2011 di Jakarta dan Bandung.

“Yang saya dengar, di Bandung ada yang mengubah lahan parkir untuk tempat berkumpul sambil masak-masak, sementara di Bogota, Kolombia mobil-mobil yang sedang diparkir mereka tutup dengan karpet dan ditaruh binatang peliharaan,” kata Stevanus.

Sigit Kusumawijaya, principal arsitek dari SIG Architect and Urbandesigner menambahkan, kota yang layak huni adalah kota di mana setiap warganya dapat hidup secara sehat dan nyaman. Serta, mudah untuk melakukan mobilitas dengan moda apapun baik jalan kaki, sepeda, dan juga transportasi umum.

“Kota layak huni juga harus atraktif, aman untuk anak-anak dan kaum manula, juga kemudahan akses ke ruang publik hijau di mana mereka bisa berkumpul dan beraktivitas,” kata dia.

Selain melalui kampanye seperti PARK(ing) Day, menurut Sigit pengembalian fungsi ruang publik tentunya akan dapat terwujud bila ada sinergisitas dengan kebijakan tata ruang yang lebih mengedepankan manusia daripada bangunan. Juga termasuk penegakan hukum yang lebih baik.

“Intinya, kota layak huni, kota untuk semua yang memanusiakan manusia,” ujar dia.

Herman/MUT

 

Published by Berita Satu on Friday, September 20, 2013
Link: http://www.beritasatu.com/megapolitan/139604-parking-day-kampanye-pengembalian-ruang-publik.html?no_redirect=true